Pengembangan Materi Persamaan Lingkaran beracuan konstruktivisme

1.1 Latar Belakang

Sampai saat ini persoalan pendidikan yang dihadapi bangsa Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah. Rendahnya mutu pendidikan khususnya mata pelajaran matematika berimbas pada rendahnya prestasi belajar siswa. Zulkardi (2000;2001) dalam Ilma (2007) menjelaskan bahwa rendahnya prestasi siswa dalam matematika di sekolah diasumsikan karena beberapa faktor-faktor yang berkaitan dengan pembelajaran matematika di sekolah diantaranya adalah materi, metode, dan evaluasi. Pertama, materi pelajaran yang dirasakan oleh siswa terlalu banyak dan kurang menarik dikarenakan kurangnya contoh yang diaplikasikan dalam kehidupan dunia mereka. Kedua, metode yang dipakai dalam mengajarkan matematika adalah terpusat pada guru, sementara siswa cenderung pasif sehingga tidak mempunyai kesempatan berpikir tentang matematika lantaran waktu yang ada hanya untuk menyalin apa yang dikerjakan gurunya. Ketiga, metode penilaian hanya difokuskan pada sumatif kurang pada formatif yang seharunsnya terintegrasi pada proses pembelajaran.

Berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan tersebut telah dan terus digunakan, mulai dari berbagai pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru, penyempurnaan kurikulum secara periodik, perbaikan sarana dan prasarana pendidikan, sampai dengan peningkatan mutu manajemen sekolah. Namun, indikator kearah mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang signifikan (Muslich, 2007:11).

Salah satu upaya yang dilakukan untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah pembaruan kurikulum pendidikan. Pembaruan dilakukan untuk mewujudkan praktik pembelajaran yang lebih berkualitas bagi siswa, menuju terwujudnya sumber daya manusia yang berkualitas, baik dalam kaitannya dengan studi lanjut, memasuki dunia kerja, maupun belajar mandiri. Oleh karena itu, melalui Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 Tahun 2006, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dilaksanakan, tepatnya mulai tahun pelajaran 2006/2007. Dengan dilaksanakannya KTSP ini, setiap guru baik yang bertugas di pendidikan dasar maupun menengah dituntut untuk lebih cakap lagi dalam merencanakan, melaksanakan serta mengevaluasi kegiatan pembelajaran di tingkat pendidikan masing-masing.

Di dalam KTSP terdapat standar kompetensi yang memerlukan upaya-upaya terencana dan kongkret berupa kegiatan pembelajaran bagi siswa. Kegiatan ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga mampu mengembangkan kompetensi yang diharapkan. Karena itu keahlian guru dalam memilih model pembelajaran yang sesuai dengan standar kompetensi yang akan dicapai dan strategi yang berpusat pada siswa, sangat diperlukan. Ada berbagai model pembelajaran yang biasa digunakan guru, misalnya pembelajaran langsung, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis pada masalah, pembelajaran yang berbasis kompetensi, pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, belajar tuntas, kontruktivisme, dan sebagainya.

Sebagai salah satu model pembelajaran yang digunakan untuk mengembangkan kompetensi siswa, pendekatan kontruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna (Muslich, 2007:44). (Novak dan Gowin, 1985) dalam Sa’dijah (2006) menjelaskan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi belajar anak adalah apa yang telah diketahui dan dialaminya. Hal ini sesuai dengan pandangan konstruktivisme bahwa guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk membangun sendiri pengetahuannya secara aktif dengan memperhatikan pengetahuan awal siswa.

Selama ini, pembelajaran matematika di sekolah khususnya di SMAN 1 Lubai, masih menggunakan sistem konvensional, dimana pembelajaran yang berlangsung masih didominasi metode ceramah dan pemberian tugas biasa (pembelajaran mekanistik) sehingga siswa kurang dilibatkan sepenuhnya dalam pembelajaran. Pembelajaran yang selama ini diterima hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian rentetan pokok bahasan, tetapi tidak diikuti dengan pemahaman konsep tentang materi tersebut. Selama pembelajaran, siswa cenderung pasif dengan hanya mencatat apa yang dikerjakan guru di depan kelas. Guru umumnya kurang memperhatikan apakah siswa telah memahami apa yang telah dipelajarinya dengan cara bermakna atau tidak.

Pada penelitian Sa’dijah (2006) pada siswa SMP Negeri 1 Malang, topik bilangan, pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme dapat dipertimbangkan sebagai alternatif dalam praktek pembelajaran matematika karena pembelajaran dengan cara ini telah memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan keefektifan. Dengan adanya hal tersebut, Sa’dijah (2006) merekomendasikan agar para peneliti lain dapat mengembangkan pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme pada subjek yang berbeda untuk topik yang berbeda. Oleh karena itu, penulis ingin mencoba mengembangkan model pembelajaran matematika beracuan konstruktivisme ini pada siswa yang penulis ajar, yaitu kelas XI IPA.

Di kelas XI IPA, semester ganjil, terdapat materi persamaan lingkaran, dimana untuk menyelesaikan soal-soalnya diperlukan pemahaman konsep tentang lingkaran, persamaan garis, jarak antara dua titik, dan lain-lain. Untuk membantu siswa mengkontruksi pengalaman belajarnya sendiri dalam pembelajaran matematika materi persamaan lingkaran secara bermakna, maka penulis ingin melakukan penelitian dengan judul Pengembangan materi persamaan lingkaran beracuan konstruktivisme di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lubai”.

1.2 Masalah Penelitian

Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana materi persamaan lingkaran yang beracuan konstruktivisme di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lubai?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk membuat materi persamaan lingkaran yang beracuan konstruktivisme di kelas XI IPA SMA Negeri 1 Lubai?

1.4 Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

1. Guru, sebagai masukan dalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran dalam rangka mengefektifkan pembinaan dan pengelolaan pembelajaran.

2. Peneliti, sebagai pengalaman mengajar yang dapat diterapkan pada materi-materi lain

3. Peneliti selanjutnya, sebagai bahan masukan untuk meneliti lebih lanjut bagaimana membuat materi matematika beracuan konstruktivisme yang lebih bagus dan bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: